BEKASI – Liquefied Petroleum Gas (LPG) menjadi kebutuhan utama untuk menopang aktivitas produksi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Seperti yang dirasakan pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Randu Agung 2, Kota Malang, Jawa Timur.
Asisten Lapangan SPPG Randu Agung 2, Satrio Muhamadi, menjelaskan gas elpiji sangat diperlukan untuk mendukung aktivitas dapur MBG.
“Kami pakai 6 tabung ukuran 50 kilogram untuk memasak,” kata Satrio saat ditemui Selasa 21 Januari 2026.
Ia menjelaskan pada November 2025, pihaknya memakai PrimGas dan merek lain. Namun, merek lain sering ada kebocoran di keran tabung. “Mulai Desember 2025 kami putuskan untuk beralih sepenuhnya ke PrimGas PT Kimia Yasa,” Satrio.
Satrio mengaku selama menggunakan PrimGas, tidak pernah ada kendala. Mulai dari pengiriman, hingga pemakaian.
Padahal dapur SPPG Randu Agung 2 Malang hampir beroperasi 24 jam untuk produksi 3.000 porsi makanan per hari.
Jumlah tersebut guna memenuhi kebutuhan MBG untuk 7 sekolah dan 10 Rukun Warga (RW) di Kecamatan Singosari, Malang.
“Sore kita pakai elpiji untuk memasak air panas yang akan digunakan untuk mencuci wadah MBG. Malam untuk memasak telur dan makanan yang akan didistribusikan esok paginya,” kata dia.
SPPG Randu Agung 2 menurut Satrio tidak hanya menyumplai MBG untuk sekolah-sekolah, namun juga untuk balita dan ibu menyusui.
“Kami pakai 6 tabung PrimGas 50 kilogram. Yang kami senang, PrimGas mengedukasi kami sebagai customer bagaimana caranya menggunakan gas agar lebih efisien. Jujur hal itu sangat membantu kami dan tidak kami dapatkan pada merek lainnya,” ujar Satrio. (*)
